Memasyarakatkan Algae Lokal Gunungkidul dengan Nori Rasa GeKa

IMG_2463

Gunungkidul dengan garis pantainya yang panjang menyimpan berbagai potensi sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat disekitarnya. Salah satunya adalah Ulva sp. Ulva sp. termasuk salah satu jenis algae hijau (Chlorophyta) atau rumput laut yang banyak ditemukan di pesisir Gunungkidul. Bentuknya lembaran tipis berwarna hijau transparan. Ulva sp. telah secara luas dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir sebagai penganan berupa keripik. Namun, keripik hingga saat ini masih diolah dan dikemas secara sederhana serta tidak tahan lama.

Nori adalah olahan rumput laut berbentuk lembaran khas Negeri Sakura. Selain digunakan untuk membalut sushi dan onigiri, nori juga dikonsumsi sebagai camilan ringan. Di negeri asalnya, nori dibuat dari algae merah (Rhodophyta) jenis Porphyra sp. Faktor potensi algae yang melimpah di Gunungkidul serta mulai mendunianya nori mendasari pembuatan Nori rasa GeKa oleh beberapa anggota KSK Biogama.

Pembuatan nori ini bermula dari kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diinisiasi oleh beberapa anggota KSK Biogama, antara lain Muhammad Zusron, Gian Aditya, Faruk Rachman, Rika Lathif Hasan dan Mellisa Indah Permata pada tahun 2014. Program pembuatan nori ini diajukan pada bidang PKM-M (Pengabdian Masyarakat)Nori dari Ulva sp. ini dianggap sebagai bentuk optimalisasi potensi yang melimpah di pesisir Gunungkidul. Melalui PKM-M nori, kelompok ini berhasil menyabet medali perak di presentasi poster pada PIMNAS XXVII tahun 2014 di Universitas Diponegoro, Semarang. Saat ini, program pembuatan nori telah dilanjutkan di bidang kewirausahaan. Mellisa Indah Permata, Farah Mawar Firdausi, Anisa Hardiyati, dan Hillizza Awalina Zulfa melanjutkan program melalui PKM-K (Kewirausahaan).

IMG_2427

Gambar 1. Nori rasa GeKa pada cetakannya.

Nori rasa GeKa memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan nori pada umumnya. Selain dibuat dengan bahan baku algae lokal Ulva sp., nori rasa GeKa memiliki biaya  produksi yang rendah. Biaya produksinya bahkan lebih rendah apabila dibandingkan dengan pembuatan keripik. Selain itu, nori rasa GeKa ini ditaksir memiliki peluang pasar yang lebih luas karena memiliki packaging yang lebih menarik. Bahan pengawet sama sekali tidak digunakan dalam pembuatan produk ini. Produksi nori juga memiliki prospek untuk dikenalkan ke masyarakat Desa Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul sebagai produk olahan baru yang dapat dibuat secara luas. Nori rasa Geka dibandrol dengan harga yang cukup terjangkau yaitu Rp. 10.000,-/pcs dengan berat 20 gr.

IMG_2275

Gambar 2. Lembaran nori yang akan dikemas.

Nori rasa GeKa telah dapat ditemukan di berbagai pameran produk mahasiswa. Baru-baru ini, tim PKM-K nori ikut serta dalam acara pameran Gadjah Mada Innovation Expo (GMIE) di Hall Gelanggang Mahasiswa UGM. Acara yang diselenggarakan oleh Agritech Study Club (ASC) Fakultas Teknologi Pertanian UGM juga menjadi ajang pameran produk dan karya Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Dalam acara ini di hadiri juga oleh kelompok non-PKM yang turut hadir meramaikan acara GMIE dengan menjual produk yang dimiliki.

IMG_2501

Gambar 3. Mellisa Indah di stand Nori rasa GeKa.

IMG_2522

Gambar 4. Mellisa Indah bersama salah satu pembeli produk nori.

Produk yang dihasilkan merupakan bentuk inovasi dan berupa suatu yang baru dan berbeda dari apa yang telah dimunculkan sebelumnya. Inovasi kerap dihubungkan dengan sebuah ide kreativitas. Salah satu upaya yang dilakukan oleh anggota Kelompok Studi Kelautan adalah dengan melakukan inovasi dan kreasi pada produk keripik Ulva sp. menjadi sebuah produk dengan kemasan yang lebih modern yaituNori rasa GeKa”. (Anisa)

%d bloggers like this: