[Artikel | Opini] Sedikit Curahan Hati: Rusaknya Terumbu Karang Di Raja Ampat

Assalamualaikum, selamat pagi, siang, dan malam para pembaca. Perkenalkan kami adalah penulis yang ingin sedikit mencurahkan opini, mencurahkan isi hati kami pada sebuah berita yang bisa dibilang mengiris hati kami para pecinta laut.

Pada tanggal 4 Maret 2017 yang lalu, di Papua Barat tepatnya di kepulauan Raja Ampat,sebuah kapal berbendera Bahama menabrak terumbu karang saat air laut sedang surut. Kapal Caledonian Sky sepanjang 90 meter yang dimiliki oleh operator tur Noble Caledonia, kandas setelah menyelesaikan perjalanan bird-watching ke Pulau Waigeo.

Kapal tersebut telah merusak terumbu karang seluas 1600 meter peregi di situs penyelaman yang disebut sebagai Crossover Reef. Kapal Caledonian Sky seberat 4.290 ton mengangkut 102 penumpang dan 79 awak kapal dalam perjalanan 16 hari dari Papua Nugini ke Filipina. Insiden itu mengakibatkan kehancuran habitat ekosistem struktural dan mengurangi atau menghilangkan keanekaragaman delapan jenis karang, termasuk Acropora, Porites, Montipora, dan Stylophora.

Seperti yang dilansir dari tempo.co, penulis sangat prihatin dengan kelakuan oknum yang telah merusak seluas 1.600 meter persegi terumbu karang. Seperti yang sudah diketahui secara umum, terumbu karang merupakan habitat dari beberapa spesies tumbuhan, hewan, maupun mikroorganisme laut. Kerusakan terumbu karang ini berdampak secara tidak langsung terhadap kelangsungan ekosistem laut. Apabila terumbu karang yang dirusak adalah tempat berkumpulnya ikan-ikan, maka ikan-ikan tersebut akan pergi mencari tempat tinggal baru, yang menyebabkan pendapatan negara dari sisi perikanan berkurang pula.

Dari pihak Noble Caledonia telah menyatakan siap bertanggung jawab atas kejadian ini, dan tim evaluasi yang dibentuk oleh Indonesia merekomendasikan US dollar 800-1.200 per meter persegi. Penulis mengapresiasi niat tanggung jawab dari pihak Noble Caledonia, namun melihat pertumbuhan terumbu karang yang hanya 5 cm per tahun dan masih tergantung dengan laut itu sendiri, mungkin akan membutuhkan waktu yang lama sebelum perbaikan kondisi di Raja Ampat bisa mulai terasa. Sekian opini dari penulis, masih butuh banyak perbaikan dan saran dari pembaca agar lebih baik lagi dalam menyampaikan pendapat.

Wassalamualaikum, selamat pagi, siang, dan malam.

  • Author : Rijal Romolo & Luqman Rasyid Ridwan (DXVII)

©Divisi Media dan Informasi KSK Biogama 2017

%d blogger menyukai ini: